Laman

Selasa, 26 April 2011

Rasa Iri atau Rasa Terinspirasi


Dua idiom yang menjadi ide sekaligus judul tulisan ini, seketika muncul gara-gara melihat kebiasaan baru teman sekamar saya. Sebut saja namanya, Idoz Pardodos binti Maimun Albaroyo. Mengeja namanya, mungkin kita akan mengira bahwa dia adalah seorang wanita Sunda keturunan Batak berdarah Portugal hasil perkawinan silang dari pasangan suami istri beretnis China Madura dan Arab Palembang. 

Merasa penasaran dengan teman sekamar saya? Oke! Sekarang akan saya ceritakan sekelumit fakta kecil tentang dia. 

Idoz Pardodos binti Maimun Albaroyo adalah panggilan akrab yang saya sematkan kepada seorang mahasiswa Fakultas Psikologi pada salah satu universitas ternama di negeri ini. Dia adalah orang yang pernah mengomentari saya dengan sinis ketika saya memiliki banyak teman dan sering chat via jejaring sosial, facebook. Dia bilang facebook itu sudah difatwa MUI, HARAM! Dia berpendapat bahwa facebook itu ngga’ penting banget! Hehe.. Akan tetapi, sejak saat saya buatkan dia akun di jejaring sosial itu, pendapat dan pendiriannya berubah 180 derajat. Melihatnya, saya seolah melihat Ksatria Baja Hitam RX, yang berubah menjadi RX Bio kemudian RX Robo. Faktanya, akhir-akhir ini ia malah keranjingan facebook. Gagagag…
Fakta lain tentang dia dan saya adalah bahwa saya kenal dia sejak lima tahun silam. Dulu saya sering berkunjung ke kost-nya, kadang menginap hingga pada satu malam saya kena damprat ibu kost-nya karena dianggap menyelinap menginap tanpa ijin. Itu salah satu pengalaman tragis yang konyol, bagi saya. Let’s forget it!
Saya pikir, cerita saya yang singkat, padat, dan menjengkelkan tentang dia sudah cukup sekian. Mari kita beralih ke topik utama yang menjadi bahan ide tulisan ini, yakni tentang kebiasaan baru teman sekamar saya itu. 

Hampir sepekan ini saya mengamatinya dalam keadaan setengah terjaga, antara sadar dan tak sadar, di setiap pagi buta di saat ayam jago pun masih bermalas-malasan untuk berka-kata, dia sudah terbangun terjaga dari tidurnya. Sepagi itu, dia sudah menyalakan lampu kamar dan asik memijat-mijat keyboard laptopnya. Sebuah perilaku yang ganjil. Sungguh tak biasa, pikir saya. Sebelum-sebelumnya, jam-jam segitu dia masih tertidur pulas dengan selimut membalut sekujur tubuhnya. Belakangan, saya tahu bahwa dia sedang gemar-gemarnya menulis artikel yang kemudian dia postingkan di akun facebook miliknya. Saya melihat senyum sumringah puas terlukis di guratan wajahnya sesaat ketika dia sudah menyelesaikan tulisannya, mem-posting-nya, dan mendapat komentar beragam dari rekan-rekannya. 

Melihat kebiasaan baru teman saya, timbul dua macam perasaan yang sampai saat ini masih saya pertanyakan kepada diri saya sendiri. Yakni, perasaan iri ataukah perasaan terinspirasi? Jika ditilik dari segi bahasa, dua kata ini memiliki makna emotif yang berbeda. Perasaan iri bermakna emotif negatif, sedangkan perasaan terinspirasi bermakna emotif positif. Perasaan iri biasanya akrab bersahabat dengan kata-kata: dengki, hasut, adu domba, jahat. Sementara, perasaan terinspirasi sering bersanding dengan kata-kata: semangat, sukses, dan motivasi. Ini adalah polarisasi makna yang bisa kita rasakan dari dua ungkapan tersebut. Menurut pendapat saya, mereka masih saling memiliki hubungan kekerabatan yang cukup erat. Menurut saya, perasaan iri adalah saudara tiri dari perasaan terinspirasi. Sama seperti cerita rakyat bawang merah, dan bawang putih. 


Perasaan terinspirasi biasanya bermula dari perasaan iri yang terkelola secara baik sehingga dia menghasilkan energi positif dan membuat kita lebih berdaya, termotivasi, bersemangat untuk melakukan tindakan positif. Perasaan iri yang tidak terkelola dengan baik maka dia akan menjadi energi negatif yang membuat kita merasa terancam, dan cenderung mendorong kita berperilaku negatif. Dalam pemahaman semacam ini, saya menawarkan sebuah teorema bahwa perasaan terinspirasi adalah salah satu manifestasi perasaan positif, yang masih merupakan saudara tiri perasaan iri, yang jika dikelola dalam kerangka berpikir positif akan menghasilkan energi positif yang menggerakkan tindakan positif. Berlawanan dengan teori gaya magnet, saya berkesimpulan bahwa tindakan positif akan mendekat pada hal-hal yang bermuatan positif juga. So, be positive feeling, thinking, and acting!




ichwankusuma: berbagi cahaya, berbagi ceria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari