...
Ketika langit hatimu muram bagai malam tanpa rembulan. Cobalah tengok keluar jendela kamar. Tataplah gugusan bintang yang menghias pekatnya malam, menyerupai kristal-kristal kecil di hamparan kain berwarna hitam. Perhatikanlah, di antara gugusan bintang gemintang itu, ada satu bintang yang cahayanya paling benderang, yang hanya bisa kamu lihat dengan mata terpejam. Perlahan cahayanya memendar membentuk wajah seseorang yang paling kamu sayang dengan senyum yang sangat indah tergurat di bibir, pipi, dan matanya. Senyumnya seperti bianglala selepas hujan reda. Sesejuk butiran air yang berterbangan di bawah Air Terjun Victoria. Seperti embun di Gurun Sahara. Seperti api unggun di tengah Antartika. Seperti mekar bunga sakura di tebing-tebing Grand Canyon, Arizona. Seketika itu, awan mendung di langit hatimu pun akan sirna, berganti awan stratus yang tipis dan transparan membalut lembut langit hatimu, menjadi biru, cerah, dan benderang.
...
Bagiku, sewindu serasa seminggu jika ingatanku me-recall semua kenangan tentang aku dan kamu. Kita. Ya, serasa baru seminggu lalu kita melepaskan seragam putih-biru berganti putih abu-abu. Aku sangat ingat betapa kamu suka warna ungu, sedangkan aku suka warna biru. kamu suka minum susu, sedangkan aku suka minum jamu. Kamu suka makan "sego bumbu", aku suka makan "sego mambu" (ups, alamak keceplosan. hehe). Intinya, selera kita sedikit berbeda karena kita memang berbeda. Tidak sama. Akan Tetapi, tidak sekali pun kita pernah mempertengkarkannya. Itulah kita. Perbedaan kita seindah pelangi, berwarna-warni tetapi tetap satu. Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kita berdua sering menyingkatnya menjadi "mejikuhibiniu", untuk memudahkan mengingatnya, karena ini sering ditanyakan dalam ujian Fisika, semester satu.
Aku meyakini bahwa perbedaan di antara kita bukanlah perbedaan yang saling meniadakan, seperti kehidupan dan kematian. Bukan pula perbedaan yang saling menjauhkan, seperti kutub utara dan kutub selatan. Perbedaan di antara kita adalah perbedaan yang saling mewarnai, seperti warna-warni pelangi, seperti bunga-bunga di taman Mekar Sari.
Masih lekat diingatanku, kali pertama aku melihatmu. Kamu begitu meyita seluruh perhatian panca inderaku. Hari Senin pagi, pukul setengah tujuh, tanggal 16 Juli, tahun 2001, kita berpapasan di gerbang SMU 1. Itu hari pertama kamu masuk di sekolah barumu, sekolahku juga, sekolah kita. Saat itu, kamu masih berseragam putih biru dengan aksesoris serba ungu. Frame kacamata, bros yang menempel di kerudungmu, jam tangan, gelang, cincin, tas, dan sepatumu, semuanya ungu. Kamu melintas di depanku dengan langkah ringan, seperti mengambang di udara, sambil melempar senyum yang tak dapat didefinisikan dengan satu dua kata. Bagiku, senyummu bagai sinar Crypton dengan panjang gelombang tak berhingga, membuatku terpental jauh, melayang ke Galaksi Andromeda. Tiba-tiba saja, jantungku memompa darah seribu kali lipat lebih banyak dan lebih kuat dari biasanya, dan tulang-tulang persendianku melunak, seperti busa. Sejak saat itu, tak peduli siapa namamu sebenarnya, aku hanya ingin memanggilmu, "Cahaya". Seperti layaknya nama-nama bangasawan di Kesultanan Jogja, aku sematkan gelar kehormatan di depan namamu "GPH", maksudku Gadis Pencuri Hati bukan Gusti Pangeran Harya. Di mataku, saat itu kamu pantas mendapat sanjungan seperti yang biasa diucapkan Demian di setiap akhir sesi sulapnya: Sempurna!
Cahaya, efek senyum Cryptonmu sungguh luar biasa. Terbukti ampuh menganestesi kelima inderaku seketika. Aku mendadak terserang sindroma katatonik stadium lima dan hampir satu dasawarsa lebih aku mengalami delusi yang beraneka. Setiap hari mulai malam, bintang dan rembulan bercengkrama di balik awan, delusi auditori dan visual pun tak dapat dicegah berajangsana mengetuk pintu kamar. Cahaya, cahaya, cahaya, hanya itu yang aku dengar. Aku lihat cermin, tembok, monitor, buku, kasur, bantal, semuanya berubah motif menjadi parasmu, Cahaya. Sepertinya aku benar-benar sudah gila.
Selasa, 17 juli, tahun 2001, pukul setengah sepuluh, di Ruang Perpustakaan SMU. Aku mendengar gemuruh suara sepatu anak-anak berseragam putih-biru memburu ke ruang tempat aku sedang duduk membaca buku karangan J. S. Badudu. Jujur, aku sangat terganggu dengan suara gaduh itu. Konsentrasiku buyar. Aku putuskan untuk berhenti membaca, sampai anak-anak kelas satu itu enyah dari hadapanku.
“Oh iya, bukankah Cahaya juga anak kelas satu! Ya, semoga saja si Cahaya juga ada di situ. Ini berarti kesempatan untuk bisa bertemu dengan si pemilik senyum crypton itu. Asiiik!”, pikirku dan harapku seketika itu.
Sambil menenteng buku di tangan kanan, aku berdiri beranjak dari tempat duduk dan beraksi sebagai observer partisipan mendekati segerombolan anak-anak kelas satu.
“Ehm.. ehm.. sedang mencari apa, dek?”, tanyaku pada salah seorang anak laki-laki berseragam putih-biru.
“Hmm.. I..i..ini kak, se..se..se..dang di..disu..suruh kakak-kakak pa..panitia MOS untuk cacari arti ‘nanama suci’ kami”, jawabnya dengan suara gugup mirip Aziz Gagap, sambil menunjukkan tulisan tercetak tebal di karton yang tergantung di dadanya.
“Oh, disuruh nyari arti ‘nama suci’?”, selayaknya konselor handal aku melakukan probing.
...
-Sebagai informasi tambahan: memang sudah menjadi tradisi di SMU kami, tiap kali musim MOS tiba, senior (siswa kelas dua dan tiga) yang menjadi panitia MOS, pasti akan memberikan seabrek tugas kepada juniornya, dengan konsekuensi akan mendapatkan hukuman bagi yang tidak melaksanakannya, dan tidak mendapatkan apa-apa bagi yang mematuhinya. (hmmm.. hebat juga ya, masih duduk di bangku SMU sudah paham menerapkan prinsip negative reinforcement). Salah satu tugas yang diberikan panitia MOS adalah mengartikan ‘nama suci’. Biasanya, nama suci ini diambil dari istilah-istilah asing atau kata-kata ilmiah dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Seperti: oksidasi, fotosintesis, insektivora, etnografi, frekuensi, elastisitas, dan lain-lain.-
...
“Iya, Kak”, kata temannya yang lain. “Tahu arti kata ini, Kak?”, sambil menunjukkan nama sucinya.
“Oh, FLUVIOGRAF? Itu adalah alat pengukur curah hujan. Ada di buku paket Geografi kelas satu, bab Iklim dan Cuaca”, jawabku tenang dan mantap, tampak pintar.
“Kalo PROKRASTINASI, Kak?”, tanya temannya yang lain lagi.
“PROKRASTINASI? Oh, Itu istilah di bidang ilmu psikologi, istilah lain untuk perilaku orang yang suka menunda-nunda pekerjaan”, jawabku.
“kalo RESONANSI, Kak?”, “DILATASI, Kak?”, “REDUKSI, Kak?”, “HIBERNASI, Kak?”, “#@$$^&^%$##*$@&?”, semuanya latah menanyakan nama sucinya padaku.
“Hmmm.. kok jadi keterusan kayak gini?”, gumamku dalam hati. “Sudah ya, saya bukan kamus. Silahkan adek-adek cari sendiri di buku ato kamus”, kataku sambil pergi menuju ke tempat dudukku semula untuk mengakhiri serangan pertanyaan yang membabi-buta.
Aku anggap misi utamaku telah gagal, karena tidak menjumpai Cahaya di antara mereka. Aku kembali duduk menunduk, melanjutkan membaca dan mencoba mengabaikan kekisruhan yang merajalela.
“Hmm.. Maaf Kak, mengganggu. Kalo SUMBU ASIMTOT itu apa ya?”, kudengar suara tanya seorang anak perempuan bersepatu ungu tepat di seberang meja.
Aku tidak langsung seketika mendongakkan kepala, melihat siapa yang berdiri menyapa di depan meja. Kulihat sepatunya warna ungu. Kaos kakinya juga ungu. Cincin di jari tengah dan gelangnya juga ungu. Tidak salah lagi. Ini pasti Cahaya. Aku tetap menundukkan kepala, takut terlihat bodoh dan gugup tidak bisa menjawab karena efek sinar cryptonnya.
“Cari di buku Matematika kelas tiga, bab Lingkaran, sub-bab Parabola”, kataku sambil tetap menunduk membaca buku karangan J. S. Badudu.
“Iya, Kak. Terimakasih”, balasnya sambil membungkukkan badan sebentar dan kemudian berlalu mencari buku yang aku maksudkan.
Aku mengeluarkan pulpen yang terjepit di saku, dan menulis di selembar kertas HVS yang kulipat seukuran seperempat buku: “Cintaku adalah asimtot sumbu yang selamanya bisu”.
(to be continued..)
ichwankusuma: berbagi cahaya, berbagi ceria
Tidak ada komentar:
Posting Komentar